(LD). Tuhan
memberikan anugrah melalui kedua orang tua, mamaku hamil dan Saatnya tiba, mamaku
dilahirkan aku dari kandungannya, kedua orang tua menamakan aku adalah DEKI
IYAI.
Kedua orang
tua memandikan, memberi ASI, menemani, mempiarahi, sampai aku masuk sekolah. Saat
aku sekolah orang tuaku tidak membiarkan, disuapin, dimanja, dibina, dan
memberi nasihat yang positif dalam kehidupanKu.
Aku adalah
orang yang pertama dari dua (2) bersaudara. Selama aku menempuh pendidikan,
baik mulai dari SD sampai SMA, aku tidak keluar masuk.
Setelah tamat
SMA, aku melanjutkan pendidikan tetapi aku pikir kedua kalinya karena aku ini,
keluarga yang ekonominya minim.
Waktu itu,
aku pergi menujiu kerumahnya tete dan nene,
pas aku ketemu dengan om kandung yang kuliah STPDN/IPDN, dari situla aku
termotivasi untuk mengikuti tes sebagai peserta IPDN.
Hari yang
begitu indah, aku merenungkan kegiatan tersebut yang aku lakukan kemaring. Ternyata
aku mengingat kembali apa yang aku inginkan. Hari itu juga aku keluar dari
rumahku untuk melengkapi persyaratan-peryeratan yang mereka umumkan lewat RRI (Radio
Republik Indonesia) Nabire.
Dua hari
kemudian aku naik ke pedalaman Dogiyai untuk mendaftar diri sebagai calon
peserta IPDN. selama perjalanan begitu lumayang jauh, karena perjalanannya 8
jam. Besoknya, aku mendaftar di kantor BKD Dogiyai.
Setelah satu
minggu kemudian aku turung ke kota nabire, untuk mengikuti tes IPDN, tingkat
kabupaten, karena peserta tes IPDN, baik
kabupaten DEIYAI, DOGIYAI, PANIAI, dan NABIRE semuanya tes di Nabire, tempatnya
SMA YPK Tabernakel. Jadwal rutingnya adalah PSIKOLOGI.
Puji
Tuhan, aku tes IPDN tidak sia-sia, karena kami dari dogiyai 6 peserta yang
lulus sebagai peserta IPDN. Dua hari kemudian, aku dengan teman-teman, menuju
ke jayapura, untuk mengikuti tes IPDN tingkat Provinsi.
Jadwal ruting
yang penitia provinsi mereka muat dalam buku panduan, adalah sebagai berikut.
1. Tes kesehatan
2. Tes smapta
3. Tes akademik
4. Tes pantukir
Setelah
satu minggu kemudian, kami kembali ke nabire untuk menunggu hasil tes tersebut,
sudah dua minggu kemudian surat hasil tes tersebut, dari panitia mereka tempel
di kantor BKD Dogiyai. Dari 6 peserta yang tes di tingkat provinsi yang
lulusnya Cuma 3 orang.
Puji
Tuhan, namaku juga ada di nomor urut 1 dari situlah aku menangis sambil berdoa,
karena aku adalah satu-satunyan dari keluarga yang ekonominya terbatas.
Nama-nama
yang lulus sebagai peserta IPDN angkatan XXIII adalah sebagai berikut: deki
iyai, yohan tebai dan petronela petege.
Setelah 2
hari kemudian, nama-nama tersebut diatas dengan 3 orang pendampingnya menuju ke
kota Bandung, Jatinangor-sumedang, Jawa Barat. Satu hari istrahat di wisma
caringin jatinangor, besoknya masuk ke kampus Institut Pemerintahan Dalam
Negeri, kami sudah barada didepan pintu gerbangnya, pendamping menyerahkan
kepada panitia, dari situlah mulai jalan jongkok sampai asrama IPDN Jatinangor
yang biasa disebut (wisma).
Selama aku
menyenam pendidikan lembaga Manglayang Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN), begitu disiplin yang kuat, tetapi aku ikuti aturan tersebut dengan
semangat.
Hari demi
hari, dan waktu demi waktu sudah lalui, saatnya aku naik semester III, bulan kebahagiannya telah tiba (Natal). Tanggal
20 desember, lembaga IPDN mengumumkan Cuti natal, aku pergi ke daerah selama
cuti sekalian ikut natal dengan keluargaku di kampung halaman. Selama aku
cuti, aku keluar masuk dengan ayahku, kamar mandipun demikian.
Pesan bapakku........Anak, selama anda kuliah disana, ikuti aturan kampus dengan
baik, karena masa depanMu akan menungguh anda, dan Noken angrek yang bapak
simpang di kamarnya bapak itu, kalau sudah selesai sekolah, noken tersebut
milik kamu.
Tanggal tiga
januari setelah cuti, aku kembali ke kota studi kampus STPDN/IPDN, karena dalam
surat cuti yang mereka muat adalah
tanggal 5 januari, masuk kampus
Hari demi
hari, waktu demi waktu telah berlalu, hari kesediannya muncul tanggal 14 maret
2014, ayahku (Alm. Marius Iyai) telah
dipanggil oleh Bapak Yang Maha Kuasa. Saat itu aku dapat terpon dari kaka
sepupu saya, tetapi saya tidak kaget dengan berita tersebut yang mereka
sampaikan, karena ayahku sudah beritahu
bahwa kalau lain kali begitu ada cuti anda jangan balik ke kampung halaman. Saya
rasa sedih dan kesedian itu mengores hari saya, karena ayahku meninggal ini,
aku belum balas harik keringat orang tua saya yang keluarkan untuk mencari
nafka hidup saya.
Orang merantau pasti mempuyai tujuan tertentu,
tujuan itu diantaranya adalah merantau untuk mencari ilmu, merantau dengan
kepentingan ekonomi, merantau untuk mencari pengalaman dan merantau untuk
berbagai hal lainya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dengan
prinsip hati nuraniku ”MODAL KEHIDUPANKU ADALAH KEYAKINAN” aku tetap
semangat dalam menjalani hidup
keseharian, disaat hari-hariku selalu di halangi oleh sesuatu yang saya tidak
iniginkan, dalam hatiku selalu berkomitmen pada prinsip hidupku. karya (PetuCS)...... sumbernya (Deki iyai/LD)
