USAI BERPISAH, AKHIRNYA BERTEMU LAGI

| |
Awal tahun 2012, kami menginjak di lembaga Manglayang Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), begitu disiplin yang  kita hadapi, keluar masuk Asrama saja takut-takut, karena belum memiliki mental, dan disiplin.
Mahasiswa Praja yang menempu pendidikan di kampus IPDN adalah 2000 orang utusan dari setiap kabupaten, terdiri dari 34 Provinsi yang ada di seluruh Indonesia.  Utusan dari NAPAPUJADODE (Nabire, Paniai, Puncak jaya, Intan Jaya, Puncak Papua, Dogiyai, dan Deiyai),terdiri dari 22 orang, Putra 20 dan Putri 2 orang.
Nama-nama yang lulus dari  (NAPAPUJADODE).
v Nabire:
·        Petrus Pekei
·        Deni Douw
·        Marinus Moy Yumai
·        Simon Benyamin korowa
·        Rasminto mallisa
·        Nur mulyadi
·        Richart Pakpahan

v Paniai:
·        Musa Dedepa Yatipai
·        Demianus Nawipa
·        Selpianus Pigome

v Puncak jaya:
·        Seminus Enumbi
·        Ronny Telenggen
·        Kirius Riky Wonda

v Intan Jaya:
·        Vebry Epen Bagubau
·        Paskalis emani
·        Leo kogoya

v Puncak papua:
·        Rudi Nicko Rumaseb

v Dogiyai:
·        Yohan Tebai
·        Deki Iyai
·        Petronela petege


v Deiyai:
·        Christian Aweldaibo T. Edowai
·        Maria Flora Pekei
Nama-nama tersebut diatas adalah putra/i terpilih  dari pengunungan tengahNAPAPUJADODE, yang menempuh pendidikan di kampus IPDN, untuk melayani dan mengayomi masyarakat, nantinya.

Dua minggu kemudian kami pergi ke Cipatat, Jawa Barat untuk  belajar  mendispra ( Mental, Disiplin dalam kehidupan praja). Setelah satu bulan kemudian, angkatan kami kembali ke kampus tercinta institut pemerintahan dalam negeri (IPDN). Cipatat adalah tempat pusat INFANTRI(kopassus), untuk membina dan mendidik kader-kader Pemimpin Bangsa.
Kami beta di kampus IPDN,  selama 6 bulan HP kami dapat tahan dari Pengasuh kami; kami sangat sedih karena belum respon atau komunikasi dengan orang yang kami sayang, terutama (kedua orang tua kami). Lebih Sayangnya, teman-teman saya yang sudah memiliki calon pasangan pendamping hidup akhirnya putus, karena HP tidak aktif.

Selama satu tahun kami bersama-sama di kampus pusat IPDN Jatinangor, tawa, bercanda, susah bersama sama di kota merantau. Begitu naik tingkat II, Kemendagri dan Civitas akademika IPDN mengambil kebijakan untuk mengadakan Regional yang artinya pembagian kampus, baik kampus RIAU, NUSA TENGGARA BARAT,  SULAWESI SELATAN, SULAWESI UTARA, KALIMANTAN BARAT, SUMATERA BARAT,  PAPUA dan KAMPUS PUSAT JATINANGOR.
Saya sangat sedih karena berpisah dengan saudara/i saya dari NAPAPUJA, Deni Douw, dan Leo kogoya di kampus Riau; Deky Iyai, Vebry Epen Bagubau, dan Richart Pakpahan di kampus Kalimantan Barat;  Nur Mulyadi, dan Simon, Benyamin Korowa, di kampus Nusa tenggara Barat; Selpianus Pigome, di kampus sulawesi selatan; Yohan Tebai, Petronela petege, dan Demianus Nawipa di kampus Sulawesi Utara; Maria F. Pekeidi kampus Sumatera Barat; Ronny Telengen, Paskalis Pamani, dan Kirius Riky Wonda di kampus Papua; Petrus Pekei, Marinus Moy Yumai, Rasminto Mallisa, Seminus Enumbi, Christian A.T. Edowai, dan Musa D. Yatipai di kampus Pusat Jatinangor.
Kami sangat sedih, dan kesedian itu meman mengores hati kami karena saudara kami Paskalis Emani, asal pendaftaran dari kabupaten Puncak Jaya di pecatkan dari lembaga Manglayang Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), karena melawan Pimpinan atau pengasuh dan konflik yang tidak jelas, dan juga Nur Mulyadi, asal pendaftaran kabupaten Nabire Tahan Tingkta, karena salah pembinaan terhadap junior atau ade tingkat. Kehidupan di Lembaga IPDN sudah diatur dengan aturan-aturan yang di sebut PETADUPRA(Peraturan Tata kehidupan Praja), kalau kita ikuti aturan-aturan tersebut, maka kita akan sukses dari kampus IPDN, kalau kita tidak ikuti baik dengan aturan-aturan , maka masa depan kita akan rusak. Kalau kita lindungi aturan, maka aturan akan melindungi kita. Contohnya, kalau kita sayang sama laptop, maka laptop tersebut sayang kita, kita makai laptop selama beberapa tahun-pun tidak akan rusak.

Hari demi hari, dan waktu demi waktu telah berlalu, sudah dua (2) tahun kita berpisah; sudah saatnya kita kembali  tawa, susah, kekompakan,  bersama-sama di kampus Pusat Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor-Sumedang 20 km - Jawa Barat.
Seseorang  merantau pasti mempuyai tujuan tertentu, tujuan itu diantaranya adalah merantau untuk mencari ilmu, merantau dengan kepentingan ekonomi, merantau untuk mencari pengalaman dan merantau untuk berbagai hal lainya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. .  ya 3 tahun sudah kami lalui di perantauan, dan kurang 1 tahun kami menempu ilmu, makin membuka mata kami akan kerasnya hidup di Kampus IPDN Jatinangor. . Dalam perjalanan hidup kami di perantauan, kebahagiaan canda dan tawa selalu kami rasakan, akan tetapi kesedihan juga pun selalu menyelimuti dalam kehidupan kami di perantauan.
Dengan prinsip hati nurani kami ”MODAL KEHIDUPAN ADALAH KEYAKINAN” kami tetap semangat  dalam menjalani hidup keseharian, disaat hari-hari kami selalu di halangi oleh sesuatu yang kami  tidak iniginkan, dalam hati kami selalu berkomitmen pada prinsip hidup.
Semuanya ini jadi sebuah tantangan yang sangat besar dalam hidup kita, harus mempunyai semangat yang tinggi untuk menjalaninya. semakin banyak pengalaman ,pengetahuan, dan cara bergaul dengan teman, semua itu jadi motivasi dalam hidup kami. Jadi seorang anak merantau itu harus mempunyai perjuangan dan tetap semangat dan takkan menyerah walau berbagai tantangan yang harus di hadapi, tapi bertahanlah karena hidup adalah butuh perjuangan.
Selamat, dan semangat berjuang  generasi   Papua  khususnya MEEUWO,  TUHAN selalu bersama kita. Karya (PetuCs/LD).